Aura Ibu Dahulu dan Kini


Aura Ibu Dahulu dan Kini

Kasih ibu Kepada Beta Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi Tak Harap Kembali

Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Itulah sepenggal bait lagu  yang menggambarkan Aura seorang ibu.   Tapi sabar dulu itu sepertinya aura ibu zaman dahulu yang rela berkorban apa saja untuk kepentingan anaknya, bertaruh nyawa dari mulai melahirkan sampai menutup mata sebagaimana ungkapan lama Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Ayah sepanjang Jalan, Kasih Teman selagi baik dan Kasih Saudara selagi ada.

Kalau  kita telaah sepertinya Aura seorang Ibu Kini sudah bergeser, lihat saja betapa banyaknya calon anak dan anak yang dibunuh oleh ibunya sendiri baik sebelum sempat menghirup aroma Udara Bumi maupun beberapa saat setelah dilahirkan oleh Sang Ibu Kini dengan berbagai alasan malu, ekonomi maupun berbagai alasan lainnya.  Aborsi, pembunuhan bayi pembuangan bayi penelantaran anak anak, sampai dengan penyiksaan yang dilakukan oleh Ibu Kini.

Berikut Sekelumitinfo Kutip Bagaimana Aura Ibu Dahulu dari sudut pandang agama Islam:

“Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah saw. tidak ketinggalan ikut berlomba meraih kebaikan, meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya kepada Rasulullah saw.

Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari Rasulullah kemudian mengajarkannya kepada kaum wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah saw. memuji Aisyah.

Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah saw., engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah saw. menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar).”

Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah tangga yang serba pas-pasan tapi tidak pernah mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan Fatimah. Kutub Tarajim membenarkan cerita tentang Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari karena nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan bertanya,”Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok kelihatan pucat?”

Dia menjawab,”Saya sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan di rumah.”

Ali menimpali,”Mengapa engkau tidak bilang kepadaku?”

Dia menjawab,”Ayahku, Rasulullah saw., menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta.”

Luar biasa bukan?

Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata kepadaku,”Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga?”

Aku menjawab,”Ya.”

Dia melanjutkan,”Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.”

Wanita itu berkata,”Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku.”

Sedangkan Aura Ibu Kini sebagai Berikut :

Adapun Aura Ibu Kini, dengan pakaian norak dan mengumbar aurat, sungguh jauh berbeda dengan Ibu Dulu. Ibu-ibu atau nenek kita, dengan kebaya anggun dan sederhana, mampu tampil sebagai wanita polos tapi tangguh. Berbeda jauh dengan Ibu Kini. Pakaiannya benar-benar mengumbar nafsu. Aurat dipertontonkan kepada semua orang. Ibu abad 20 ini bahkan meraup keuntungan dengan menjual tubuhnya.

Salah satu contoh. Kita bisa melihat tentang Putri Indonesia yang diikut sertakan dalam ajang pemilihan Miss Universe atau Miss World. Boleh saja para sponsor itu berargumen bahwa keikut sertaan putri Indonesia untuk membawa harum nama bangsa dengan secuil pakaian khas budaya Indonesia. Namun kenyataannya, putri kita di luar negeri justru berbusana bikini. Pakaian ala adat yang dikenakannya pun sangat glamour dan mahal. Sungguh berbeda dengan baju-baju wanita Indonesia di pedesaan yang compang-camping.
Jika demikian, apa sebenarnya yang kita tampilkan di dunia internasional selain kemewahan palsu dan kebudayaan semu. Wanita Indonesia kini hanya bisa bernyanyi dan berucap “Selamat Hari Ibu”. Namun, sekali lagi, ini hanya sebatas ucapan yang perlu diprihatinkan. Para pejuang gender yang benar-benar ikhlas berjuang untuk wanita, justru mereka sering diserang dan didiskrisitkan. Lain lagi dengan orang-orang yang mengaku berjuang demi gender, tapi sebenarnya mereka berjuang untuk meraih proyek demi proyek.
Perempuan Indonesia kita biarkan menjual dirinya di luar negeri. Isteri dan sekaligus ibu dari anak-anak kita sendiri, kita biarkan mengais rizekinya sendiri dengan hidup terlunta-lunta. Kartini-kartini kita, justru kita biarkan mereka bergaul dengan orang-orang yang bukan muhrimnya. Kita acuh tak acuh dengan peluh kesah mereka.

Kalau kita perhatikan perkembangan wanita dewasa ini, memang cukup mengkhawatirkan, meskipun di lain pihak masih banyak kaum wanita berjilbab yang semarak. Bahkan, pengajian-pengajian justru dipenuhi oleh kaum wanita. Tapi, melihat berbagai upaya musuh Islam untuk menghancurkan kaum hawa dengan berbagai cara melalui media massa yang destruktif (merusak), maka tantangannya semakin berat. Kalau tidak berbekal ilmu agama yang cukup dan disertai semangat juang yang tinggi, niscaya wanita pada zaman sekarang sulit untuk selamat. Bayangkan, kehidupan masyarakat di sekeliling kita sampai pergaulan di tingkat nasional dan internasional sudah sangat bejat. Kebejatan itu diliput dan disampaikan ke rumah-rumah kita melalui saluran-saluran TV. Dan, yang tidak puas ditambah dengan VCD dan internet. Sehingga, waktu untuk beribadah kepada Allah semakin terpinggirkan atau tergeser oleh otak yang merekam semua adegan itu.

Akhirnya berikut ini Sekelumitinfo mengutip Kunci-Kunci Keselamatan Bagi Anak-anak perempuan dan Caloncalon Ibu dimasa yang akan datang :

  • Kunci kebahagiaan adalah taat keada Allah dan Rasul-Nya.
  • Kunci surga adalah tauhid.
  • Kunci keimanan adalah berpikir tentang ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya.
  • Kunci kebaikan adalah kejujuran.
  • Kunci kehidupan hati adalah membaca dan mendalami Al-Qur’an serta menjauhi dosa.
  • Kunci rizki adalah berusaha sambil beristighfar dan bertakwa.
  • Kunci ilmu adalah pandai bertanya dan mendengar.
  • Kunci kemenangan adalah sabar.
  • Kunci kesuksesan adalah takwa.
  • Kunci tambah rizki adalah bersyukur.
  • Kunci sukses akhirat adalah zuhud terhadap dunia.
  • Kunci dikabulkan permintaan adalah doa, dll.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Dikutip dan di tata dari berbagai Sumber sekelumitinfo

 

 

 

Iklan

Tentang vidona

Like,s Korean Love Indonesian News Update religius
Pos ini dipublikasikan di berita, info, kiamat, News, Religus Tips, woman health dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Aura Ibu Dahulu dan Kini

  1. Ping balik: Aura Ibu Pembohong?? | All In One SEMUA ADA DISINI

Komentar ditutup.