Kesamaan Lampung dan Bali


Kesamaan Bali dan Lampung

Dalam beberapa hari ini akibat bentrok konflik horizontal yang terjadi di Kabupaten Lampung Selatan atau tepatnya di Desa Balinuraga dan Sidoreno antar sekelompok masyarakat suku Lampung yang bertikai dengan masyarakat suku Bali yang telah mengakibatkan sekitar 12 orang tewas dan ratusan rumah yang terbakar serta ribuan orang yang terpaksa diungsikan.  Bentrok berdarah yang terjadi tepat bersamaan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda yang mempersatukan seluruh pemuda indonesia dari sabang sampai merauke dengan tujuan Indonesia Bersatu.

Setelah beberapa hari ini suasana kegiatan komentar dan berbagai aksi yang belum dapat menghasilkan suatu keputusan yang dapat meredam dan mempersatukan kedua belah pihak yang bertikai, sekelumitinfo mencoba gugling mencari kesamaan suku Bali dan Suku Lampung dan ternyata ada Tulisan dari Ulun Lampung Oleh Iwan Nurdaya-Djafar yang mengulas Kesamaan Lampung-Bali sebagai berikut di bawah ini

Di  balik gambaran rapi tentang aneka budaya yang terpisah-pisah itu, bersemayam suatu prinsip interaksi dinamis, atau pergerakan dan kreasi aktif heterogenitas yang dimotori oleh sebuah proses budaya yang digambarkan sebagai “Peradaban Pesisir”. Hal itu misalnya dapat dilihat dengan jelas di dalam Malat, sebuah syair kidung Bali yang amat penting pada abad ke-18 dan ke-19. Paparan tentang Melayu, Jawa, dan Bali di dalam Malat menunjukkan adanya interaksi antarbudaya yang intensif untuk membuktikan bahwa sekian banyak budaya itu adalah manifestasi dari sebuah peradaban bersama.

Karya sastra Bali juga masuk ke Lampung melalui cerita Panji yang berasal dari Jawa pada abad ke13 dan ke-14. Terdapat banyak bukti bahwa cerita Panji eksis di Lampung, belum lagi kehadirannya dalam cerita rakyat yang terhimpun di sana, misalnya cerita Radin Bangsu.

Dalam bukunya Peradaban Pesisir: Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara, secara khusus Vickers menulis satu bab, yaitu Bab III yang bersubjudul “Dari Bali ke Lampung: Perihal Pesisir”. Simbolisme kapal telah mempertautkan keduanya. Membuka bab itu, Vickers melontarkan pertanyaan dengan kata-kunci kapal, yaitu: pelayaran apa yang membawa kita dari Bali ke Lampung dengan kapal? Di pantai mana kita berlabuh untuk menautkan dua budaya Indonesia ini?

Contoh yang dipakai Vickers adalah lukisan Bali yang menampilkan sebuah versi adegan cerita Panji Malat Rasmi, Malat, dan kain Lampung yang dikenal sebagai tampan pasisir. Keduanya menarik karena sama-sama menggambarkan kapal, meski secara stilistika jelas tidak memiliki kesamaan apa pun. Kedua contoh tadi adalah representasi tentang kapal, dan dapat dijelaskan dengan merujuk kepada khazanah sastra perihal simbolisme kapal di Indonesia. Sastra semacam ini berpusat pada simbolisme kapal sebagai manifestasi dari masyarakat Indonesia kuno. Pelbagai simbol terjalin melalui asal-usul bersama dan difusi.

Kapal, lazimnya dalam bentuk peti mati atau sarkofagus, digunakan di berbagai daerah Indonesia untuk merepresentasikan perjalanan jiwa. Dengan membandingkan kain tampan dan ritual Lampung, ada pendapat yang menyatakan bahwa kapal juga menyimbolkan gerak menempuh babak-babak kehidupan. Kedua argumen ini terikat pada sebuah pandangan bahwa distribusi simbol-simbol semacam itu bersumber dari asal-usulnya pada zaman kuno. Melalui sebaran simbol kapal, rumah, tanduk kerbau, ular dan burung, kita bisa menguraikan suatu budaya-Asali Indonesia megalitik.

Tampan Pasisir

Tampan pasisir Lampung berkenaan dengan masyarakat Lampung yang memperlihatkan “kelestarian” (survival) watak kultural primordial. Bentuk tampan pasisir hanyalah satu jenis kain Lampung bermotif kapal yang terbatas di wilayah selatan Lampung. Jenis lainnya adalah berbagai kain “darat” yang membentuk khazanah tekstil yang dikoleksi di Barat, dan pelbagai corak selatan setempat dari Kalianda dan Teluk Semaka. Corak Kalianda dan Teluk Semaka dapat dipandang sebagai variasi corak tampan pasisir.

Ada korelasi antara corak kain dan pengelompokan kultural di Lampung (atau “ranah Lampung”, sebutan Belanda untuk kawasan ini). Corak “darat” terutama bertalian dengan wilayah-wilayah yang digolongkan sebagai adat pepadun, yaitu wilayah yang menonjolkan semacam identitas “suku pribumi” (tribal). Dalam penyebarannya, corak Kalianda tampak bertalian dengan Kerajaan Darah Putih (yang mencakup wilayah Ratu, Daratan, dan Rajabasa), sedangkan corak Teluk Semaka dapat dihubungkan dengan wilayah Kerajaan Samangka atau Semaka (di seputar kawasan Wonosobo dan Kotaagung).

Tampan pasisir terutama berasal dari kawasan atau bekas Kerajaan Teluk Betung, dan mungkin dari sejumlah wilayah Darah Putih. Ciri paling mencolok dari ragam-ragam tampan yang lebih mutakhir ini adalah penggambaran nonabstrak berbagai figur wayang dan (terutama) kapal. Kecenderungan abstraksi dan corak Kalianda dan Teluk Samaka mungkin hasil dari upaya sengaja mengembangkan corak unik untuk menandai identitas khas dua wilayah ini.

Corak tampan pasisir dibahas secara mendalam oleh Holmgren dan Spertus, yang memaparkan bahwa tekstil-tekstil tersebut sangat kuat mengusung narasi. Mereka menguraikan sebagian dari banyak ragam adegan pada tampan pasisir: penggambaran kelahiran seorang putra agung di kapal; prosesi armada raja, lengkap dengan gajah-gajah di kapal; transfer peti harta dengan kapal; dan penggambaran seorang bangsawan kerajaan bersama tiga wanita di sampan pelesir. Setidaknya sebagian dari adegan-adegan ini paralel dengan proses ritual di kalangan bangsawan Lampung Selatan yang memiliki kain-kain itu.

Sejatinya masih banyak lagi mitos-mitos Lampung lainnya perihal kapal, tapi tak cukup ruang buat diturunkan di sini. Begitu pula motif kapal bukan hanya muncul pada kain Lampung, melainkan juga pada ilustrasi teks sastra Lampung semisal Tetimbai Si Dayang Rindu, dan pada masa mutakhir tampil sebagai motif kain batik sebagi, dan bahkan lambang daerah Kota Bandar Lampung. Pun pula dalam bentuk tiga dimensi yang muncul pada arsitektur gapura atau rumah.

Simbolisme Kapal Bali

Dalam contoh dari Bali yang ditampilkan di sini, citra kapal merepresentasikan sebuah perjalanan simbolik, yaitu perjalanan menempuh babak-babak kehidupan, atau perjalanan dari kehidupan menuju kematian. Untuk memperkuat argumen ini, tidak tertutup kemungkinan ditemukan simbolisme kapal yang lain di Bali. Dalam ritual kematian, pandita yang menjadi imam, biasanya seorang padanda (pendeta tinggi Brahmana), harus “melayarkan” (ngentas) jiwa dari dunia ini ke alam baka.

Demikianlah, di sebuah desa di Bali Timur, simbolisme kapal menjadi bagian dari upacara pemurnian. Sebuah kapal dibikin dari pelepah daun kelapa dan diberi muatan simbolik. Pada saat yang bersamaan, dibuatlah falus setinggi kira-kira satu meter, disebut “lingga desa” (kleng desa). Pada gilirannya kemudian, kapal tersebut dibawa ke gundukan batu yang merepresentasikan laut, dan serta-merta dibakar ketika tetua desa meloncati falus itu.

Dari riset Vickers mengenai penggunaan episode yang digambarkan tersebut dalam beragam bentuk artistik di Bali, dia mendapati bahwa setumpuk asosiasi lain yang muncul dari narasi ini sulit diabaikan. Untuk mempertahankan penjelasan tentang “kapal mendiang” dan “ritus transisi”, ada aspek-aspek dari plot episode itu yang relevan dengan tema-tema tersebut. Akan tetapi, ada pula berbagai kemungkinan makna lain yang akan terabaikan ketika berfokus pada dua makna simbolik itu.

Dengan mengedepankan adanya kesamaan Lampung dan Bali dalam ikatan peradaban pesisir di atas, kita berharap, pertikaian antaretnik Lampung dan Bali tak lagi terjadi di masa depan. Caranya adalah dengan menyegarkan kembali ingatan kolektif kita akan hal itu dan mengembangkannya.

Upaya ini kiranya sudah ada meskipun sporadik sifatnya. Misalnya, I Wayan Sumerta Dana (Wayan Moco) yang memberi nama notasi alat musik Lampung berupa cetik (gamolan pering) dan beroleh hak atas kekayaan intelektual atasnya, I Gusti Ketut Okta Bayuna yang memenangi lomba desain lambang daerah Kota Bandar Lampung yang desainnya sarat dengan simbol adat Lampung, serta komposisi tari yang merupakan kolaborasi tari Lampung dan Bali.

Selain Hal Tersebut dari Tulisan tentang sejarah Aksara Batak dapat diketahui bahwa baik Lampung Maupun Bali memiliki Aksara sendiri :

Surat Batak terdiri atas dua perangkat huruf yang masing-masing di­se­but ina ni suratdan anak ni surat. Sistem tulisan yang demikian juga di­pakai oleh semua abjad India dan abjad-abjad turunannya. Dan me­mang aksara Batak dan demikian juga semua aksara Nusantara lainnya yang berinduk pada aksara India).[1] Namun demikian, kerabat surat Ba­tak yang paling dekat adalah aksara-aksara Nusan­tara, dan khususnya yang di Sumatra. Tulisan Nusantara asli dapat dibagi atas lima kelom­pok:

Dibandingkan dengan aksara-aksara India yang memiliki empat pu­luhan aksara ditambah belasan tanda diakritik, tulis­an-tulisan Nusantara jauh lebih sederhana. Tulisan Jawa dan Bali memiliki 20 aksara dan 10 diakritik, tulisan Lampung memiliki 20 aksara dan 12 diakritik, tulisan Makasar 19 aksa­ra dan 5 diakritik, dan tulisan Ta­galog hanya 15 ak­sara dan dua diakritik.

Tulisan-tulisan India dan juga tulisan Sunda, Jawa, dan Bali mem­punyai tanda “pasangan”, ialah tanda diakritik penanda konso­nan yang ditulis untuk menutup konsonan lain di depannya. Tulis­an-tulisan Nusantara di luar Jawa dan Bali tidak meng­guna­kan pasangan sehingga jumlah huruf yang harus dihafal jauh berkurang.

Kesederhanaan dalam bentuk aksaranya juga adalah ciri-ciri khas bagi aksara-aksara tersebut. Bila dibandingkan de­ngan aksara Jawa atau Bali, tampak bahwa aksara Sumatra, Sulawesi dan Filipina mempunyai bentuk yang lebih sederha­na. Bentuk yang berlengkung-lengkung telah diganti oleh ben­tuk yang lebih bersegi yang lebih se­suai untuk menulis di permukaan yang keras seperti di kulit bambu.

Aksara-aksara tersebut juga memperkenalkan sebuah hal yang baru yakni aksara-aksara yang didahului bunyi sengau. Batak (Karo) memiliki dua huruf tambahan yakni Mba dan Nda, aksara Kerinci dan Rencong menambahkan dua lagi yakni Ngga dan Nja. Aksara Bugis juga mem­punyai empat aksara yang bersengau ialah Ngka, Mpa, Nra, dan Nca. Perlu dicatat bahwa gejala tersebut tidak ada pada ak­sara Batak selain Karo, dan juga tidak ada di Lampung, Makasar, dan Filipina.

Karena persamaan-persamaan yang tadi disebut, dapat diduga bahwa semua aksara Nusantara di luar Jawa dan Bali berasal dari satu aksara purba. Aksara purba tersebut ke­mungkinan besar tercipta di daerah Su­ma­tra selatan pada masa kejayaan dan di sekitar wilayah Sriwijaya. Ak­sara purba tersebut dapat dipastikan tercipta di bawah pengaruh aksara-aksara Palawa yang telah berkembang di wilayah tersebut, namun diolah sedemikian rupa sehingga bentuknya menjadi lebih sederhana supaya lebih mudah dipelajari, lebih sesuai untuk ba­hasa-bahasa setempat (yang dari segi bunyi jauh le­bih sederhana daripada bahasa-bahasa India), dan juga lebih sesuai untuk menulis di atas bambu. Bagaimana persisnya perkembangan aksara Sumatra se­lanjutnya, bagaimana hubungannya dengan kerabat-kerabat lainnya di Filipina dan di Sulawesi, dan bagai­mana persisnya peranan aksara Jawa da­lam pembentukan aksara Sumatra tidak diketahui dan mung­kin juga kelak tidak akan diketahui.

Mari kita Maknai SUMPAH PEMUDA 2012 dengan mencari kesamaan dan berdampingan secara damai dalam Aneka Keberagaman Yang Ada di Indonesia BHINEKA TUNGGAL IKA

Mari Kita Nyanyikan Satu Nusa Satu Bangsa dari Cokelat berikut ini

Tentang vidona

Like,s Korean Love Indonesian News Update religius
Pos ini dipublikasikan di berita, info, News, Religus Tips dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kesamaan Lampung dan Bali

  1. pelancongnekad berkata:

    awalnya denger berita, saya pikir konflik “biasa” seperti yang sering terjadi di daerah lain. Eh, ternyata udah hampir menyangkut isu SARA. Kenapa sih perbedaan itu ga bisa ditipiskan dengan kerukunan. padahal slogan negara ini aja udah jelas mengikrarkan bahwa Berbeda-beda tapi tetap satu

Komentar ditutup.