Aneka Berita Online Terbaru


Aneka Berita Online Terbaru 4 Jan 2018

Bappenas Optimis Angka Kemiskinan Pada 2018 Berada di Bawah 10 PersenJan 2017

Laporan wartawan Tribunnews.com, Imanuel Nicolas Manafe

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro optimis angka kemiskinan tahun 2018 berada di bawah 10 persen.

“10,2 persen itu kemiskinan terendah sepanjang sejarah. Tahun ini (2018) kami harap di bawah 10,” ujar Bambang di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (3/1/2018).ADVERTISINGinRead invented by Teads

Jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (PBS), angka kemiskinan pada tahun 2017 mengalami penurunan.

Meski angka kemiskinan dapat diturunkan pada tahun sebelumnya, Bambang mengatakan proverty rate atau tingkat kedalaman dan keparahannya masih terlihat.

Untuk memperbaiki tingkat kedalaman dan keparahan tersebut, Bambang mengatakan perlunya program-program pemerintah yang dapat menyentuh langsung atau tepat sasaran ke masyarakat.

Baca: SBY: Demokrat Takut Enggak Nih ?

“Caranya subsidi harus tepat sasaran. Kemarin rastra dan subsidi itu banyak yang tidak tepat sasaran dan tepat jumlah,” ucap Bambang.

Program Prorakyat Kemensos Memang Ampuh, Ini Buktinya

Menteri Sosial Khofifah Inda Parawansa. Foto: dok jawapos.com  jpnn.com, JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) makin optimistis terhadap keberlangsungan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Beras untuk Masyarakat Sejahtera (Rastra). Sebab, program prorakyat itu terbukti mampu menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran antar penduduk (rasio gini). Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PKH dan Rastra berdampak signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan dan rasio gini. Merujuk data BPS pada September 2017, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 26,58 juta orang atau 10,12 persen dari total populasi.

Khofifah menyebut angka itu berkurang sebesar 1,19 juta orang dibanding Maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen). Berdasar data BPS pula persentase penduduk miskin di perkotaan turun dari 7,72 persen pada Maret 2017 menjadi 7,26 persen pada September 2017. Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pun mengalami penurunan. Dari 13,93 persen pada Maret 2017 menjadi 13,47 persen pada September 2017. Penurunan angka kemiskinan juga berimbas ke rasio gini. Dari 0,393 pada Maret 2017 menjadi 0,391 pada September 2017. “Jika hitungannya year to year (dibanding September 2016, red) sebesar 0,394, maka terjadi penurunan sebesar 0,003 poin,” ujar Khofifah sebagaimana siaran pers Kemensos, Rabu (3/12). Tokoh Muslimat Nahdatul Ulama (NU) itu menyebut data BPS menjadi bukti efektivitas PKH dan Rastra penanggulangan kemiskinan di Indonesia.

Dengan capaian tersebut, lanjut Khofifah, Kemensos makin optimistis dengan target penurunan angka kemiskinan menjadi single digit. Berdasar patokan di APBN 2018, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan tahun ini turun 9,5-10 persen. Karena itu, Kemensos pun menggenjot kinerja agar penyaluran bantuan sosial (bansos) benar-benar tepat sasaran dan tidak diselewengkan. Khofifah menjelaskan, Kemensos pada 2017 melakukan revolusi bantuan sosial dengan merubah sistem tunai menjadi non-tunai(BPBT) melalui kerja sama dengan Himpunan Bank Negara (Himbara). “Pada 2018 ini, kami yakin perluasan penerima bansos nontunai dari enam juta menjadi sepuluh juta keluarga penerima manfaat dapat semakin menekan angka kemiskinan dan gini ratio,” tuturnya.

Tahun 2017 Ada Lebih 5 Juta Wisman ke Bali, Paling Banyak dari China

KUTA, KOMPAS.com – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi  Bali Anak Agung Yuniartha Putra mengatakan total wisatawan yang berkunjung ke Bali sepanjang tahun 2017 sebanyak 5,8 juta. Menurutnya, angka ini naik antara 15 – 16 persen dibandingkan tahun 2016 dan didominasi oleh  wisatawan mancanegara (wisman) asal China.

“Peningkatan dari tahun ke tahun cukup luar biasa, banyak yang datang ke Bali terutama China,” kata Yuniartha saat ditemui di Kuta, Rabu (3/1/2018).

Berdasarkan data resmi  Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, lima negara dengan tingkat kunjungan wisman paling tinggi adalah Cina sebanyak 23 persen, Australia 20 persen, India 5,58 persen. Kemudian, disusul Ingris dan Jepang masing-masing 4,11 dan 3, 82 persen.

Yuniartha mengatakan terjadi perlambatan pertumbuhan kunjungan di akhir tahun 2017 akibat erupsi  Gunung Agung. Apalagi sejumlah negara menerbitkan travel warning.

Ia menyebut pengaruh paling siginifikan terjadi pada wisatawan asal China. Menurutnya, wisman asal asal China memiliki karakter tersendiri saat berwisata. “Kalau wisatawan China itu mereka patuh benar pada pemerintahnya, kalau dilarang mereka taat, beda dengan wisatawan Austalia,” katanya.

Untuk awal tahun 2018, pihak Yuniartha mencatat kunjungan wisman asal China baru mencapai 60 persen dari biasanya. Oleh karena itu pihaknya akan terus melakukan promosi, terutama ke negara-negara dengan pangsa pasar wisatawan yang cukup besar.  “Saya juga minta pada stakeholder pariwisata agar memperhatikan destinasi di kabupaten kota masing-masing,” kata Yuniartha.

Ke Karawang, Mentan Beberkan Cara Hindari Paceklik

Karawang – Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, menyatakan paceklik selama 2017 bisa dihindari. Hal itu karena pola pertanian modern mulai diterapkan, mengganti pola tradisional. “Paceklik dihilangkan dengan cara menanam 3 bulan sebelumnya,” ujar Amran saat panen raya di Desa Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat Rabu (3/1/2018). Sejak 2015 pemerintah berupaya mengubah pola tanam petani. Jika biasanya petani menanam padi dua kali dalam setahun, kini ditambah menjadi tiga kali dalam setahun, atau setiap 3 bulan. “Ini (pola pertanian modern) adalah paradigma baru. Pertanian tradisional sekarang sudah ditinggalkan,” kata Amran.

Amran menjelaskan, pola pertanian modern adalah sistem pertanian efektif dan efisien. Selain menghasilkan padi lebih banyak, pola tanam moderen bisa mencukupi kebutuhan beras dalam negeri. Baca juga: Benih ‘Amfibi’ Ini Bisa Dongkrak Produksi Padi”Perubahan paradigma pertanian itu fundamental. Hasilnya, sekarang panen terjadi di mana-mana. Kita siap hadapi surplus,” tutur Amran. Amran menambahkan, untuk mendongkrak produksi padi, pemerintah berupaya menggunakan serangkaian teknologi. Selain pupuk yang modern, ada pula alat dan mesin pertanian. “Dulu pakai kerbau, sekarang pakai traktor.

Dulu panen bisa  2 hari, sekarang menggunakan mesin combine harvester bisa selesai 1 hektare hanya 3 jam,” kata Amran.Baca juga: Gelar Rapat Pangan, Mentan: RI Swasembada Beras Hingga BawangSerangkaian pola modern itu menurut Amran berdampak positif, termasuk meningkatkan kesejahteraan petani. “Mengakibatkan kesejahteraan petani meningkat. Silakan cek di BPS, sekarang ada penurunan kemiskinan di pedesaan hingga 2 persen,” terang Amran.

Tingkat Kesenjangan Ekonomi di DIY Lebih Tinggi dari Nasional

Yogyakarta -Tingkat kesenjangan pendapatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin tinggi. Bahkan kesenjangan di DIY ini berada di atas angka nasional.Berdasar data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) angka gini ratio DIY mencapai 0,440, sedangkan nasional 0,391. Tingkat gini ratio di DIY meningkat dari 0,432 periode Maret 2017 naik menjadi 0,440 pada September 2017.Pemda DIY mengakui tingginya angka kesenjangan tersebut. Angka kesenjangan yang dikeluarkan BPS akan dijadikan dasar menciptakan langkah-langkah penyelesaian kesenjangan. Pemda akan berupaya untuk mengurangi angka kesenjangan tetapi tidak mematok angka pasti penurunan kesenjangan.“Kita targetkan minimal bisa di bawah nasional.

Artinya kita ada upaya,” kata Sekda DIY, Gatot Saptadi, di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (3/12/2017).Gatot mengatakan, Langkah yang dilakukan diantaranya dengan membuat program yang berpihak pada pengurangan kesenjangan dan kemiskinan. Seperti pembangunan infrasfruktur air minum, pendidikan, kesehatan dan peningkatan akses. “Saya menengarai (kesenjangan) ini ada di perkotaan dan pedesaan. Fokusnya kita sektor terkait, sarana prasarana seperti rumah sakit, akses air minum, tingkat kesehatan, ekoonomi,” kata Gatot.Ketua Komisi A DPRD DIY,  Eko Suwanto, mengatakan besaran angka gini ratio 0.44, yang naik dari 0.43 pada triwulan pertama tahun 2017 di DIY mengejutkan semua pihak.

Apalagi DIY sudah mendapatkan tambahan alokasi anggaran lewat dana keistimewaan (Danais) yang dalam lima tahun terakhir sudah sebesar Rp 2.6 triliun.“Tentu fakta ini mengejutkan mengingat selain APBD, juga ada tambahan Danais 2.6 T dalam 5 tahun terakhir. Harus ada perencanaan yang lebih baik agar program kebijakan pemda lebih baik,” kata Eko Suwanto.Pemda DIY diharapkan bisa mendorong dan menjalankan program kegiatan yang fokus untuk kesejahteraan rakyat. Pembangunan harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Tentang vidona

Like,s Korean Love Indonesian News Update religius
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Silahkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s